Mengokohkan Identitas Kohati Menuju Indonesia Emas – KILASMALUKU.com
EDITORIAL

Mengokohkan Identitas Kohati Menuju Indonesia Emas

Oleh: Mukhlisah Arief Hanubun
(Ketua Panitia Musyawarah Nasional Kohati)

AMBON – Kiprah perempuan diruang publik boleh dibilang bukanlah perkara baru, katakanlah soal merubah wajah realitas atau agenda partisipasi politik kaum feminis untuk melawan sistem yang menindas beberapa aspek yang prinsipil dari kaum perempuan itu sendiri. Misalnya seperti hak untuk mendapatkan perlindungan, dan perlakuan yang adil dalam konteks apapun . Hemat saya, aspek demikianlah yang menjadi alasan atau sasaran umum, sampai lahirnya agenda-agenda perubahan yang disodorkan secara konsep maupun praktis dalam menerobos dinding dominasi dari setiap rezim yang sering tidak mempertimbangkan beberapa alasan di atas.

Kita-pun tidak perlu jauh-jauh untuk memperbincangkan setiap hal yang terkesan over historis dalam mendeteksi setiap problem yang kita anggap, miris atau menyimpang secara moral dalam membangun narasi-narasi baru bagi kaum perempuan. Karena bab-bab yang demikian bisa dikatakan hanya menjadi bahan literasi semata. Namun untuk tidak meninggalkan setiap babakan sejarah yang bersifat dialektis tersebut, maka secara subtantif, saya hanya akan menjelaskan secara singkat dan mendasar mengenai periode dan babakan baru dari perjuangan dan pergerakan kaum perempuan itu sendiri.

Jika dilihat dari latar perjuangan perempuan secara historis, perjuangan perempuan bisa dikategorikan mejadi tiga babak . Pertama mengenai perlawanan kaum perempuan terhadap rezim kolonialisme, kedua menuju babak sejarah pendidikan, yang dimana perempuan tampil menjadi agen pendidik. Ketiga pergerakan dan perjuangan perempuan dalam bidang politik, ekonomi, hukum, dan budaya, yang dilandasi dengan aksi-aksi dingin memasuki ruang-ruang formil. Dan organisasi/perkumpulan yang bisa dibilang masih tetap eksis dan masif sampai dengan periode kontemporer ini, ialah Korps HMI Wati (KOHATI).

Latar belakang berdirinya KOHATI sendiri merupakan sebuah proses yang mengharuskan HMI secara praktis tampil untuk mengisi peran dalam ruang-ruang publik yang secara sosio kultur kadang tidak diterima oleh kaum pria (budaya Patriarkis).

Tidak sampai disitu, pada masa-masa yang cukup menekan agenda nasional pada dekade 60-an oleh rezim komunisme, HMI yang pada saat itu juga turut memberikan presure terhadap pergerakan komunisme juga menjadi landasan yang kuat untuk menghalau arus awal dari pergerakan komunisme.

Saat itu gerakan wanita indonesia atau yang dikenal dengan sebutan GERWANI (Underbone PKI) yang aktif pada dekade 50-60 juga memberikan efek yang serupa terhadap organ-organ lain seperti HMI untuk membentuk wadah keperempuanan untuk berpartisipasi melawan pengaruh ideologis tersebut.

KOHATI didirikan pada tanggal 2 jumadil akhir 1386 H, atau bertepatan dengan tanggal 17 september 1966 M pada kongres VIII di Solo. Motivasi yang melatarbelakangi Korps HMI Wati sendiri bisa dibilang cukup bervariatif. Secara khusus kehadirannya ditujukan untuk beberapa faktor, yakni semangat keislaman, emansipasi, persatuan yang didasarkan untuk memperjuangkan kemerdekaan indonesia dan rasa tanggung jawab penuh untuk memerdekakan fisik dan aspek spiritual wanita indonesia.

Sedangkan terhadap alasan-alasan yang mendasar secara organisatoris, terdapat pada dua bagian, yakni alasan internal dan eksternal. Secara internal departemen keputrian tidak cukup untuk menampung aspirasi para kader HMI Wati. Secara eksternal tantangan yang hadir melalui semangat nasionalisme untuk melawan antek-antek PKI juga turut menjadi tuntuan moril yang bersifat startegis untuk tetap mempertahankan kemerdekaan negara dari isu-isu dangkal mengenai pertentangan ideologi dan dasar filosofi negara.

Memasuki 52 tahun sejak berdirinya Korps HMI Wati, perkembangan dan perubahan pesat yang terjadi secara global dan juga saling mempengaruhi secara kuat dari wilayah lokal, nasional dan internasional, mengharuskan konsentrasi HMI Wati, tidak hanya terkerahkan pada agenda-agenda tahunan saja, seperti pengkaderan dan momentum pemilihan pimpinan.

Sebagaimana di jelaskan dalam pedoman dasar Kohati pada Bab I ketentuan umum tepatnya pada pasal 1 (b), yang menyatakan bahwa Kohati adalah Badan Khusus HMI yang bertugas membina, mengembangkan dan meningkatkan potensi HMI –Wati dalam wacana dan dinamika gerakan perempuan.

Interpretasi peran terhadap poin di atas jelas memberikan perhatian yang serius dalam dinamika gerakan perempuan, yang tentunya dalam muatan-muatan ketentuan tersebut secara aksioamatik tidak dapat dipisahkan dari perubahan zaman, sehingga memang tidak ada pencantuman angka-angka yang bersifat periodik dalam ketentuan tersebut. Atas interpretasi yang luas tersebutlah, yang sebenarnya harus dijadikan sebagai dasar dan pijakan bagi KOHATI dalam membaca peta perkembangan dunia.

Sebagai misal, masih maraknya tempat prostitusi yang dikunjungi, bahkan oleh anak-anak dibawah umur, pemerkosaan, aborsi, dan kekerasan terhadap anak secara fisik dan non fisik.

Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan era indonesia emas (2045)?, dan bagaimana caranya menuju era tersebut atas berbagai masalah yang datang tanpa jeda menimpa indonesia secara fluktuatif ?. jika di tinjau secara umum, di indonesia sendiri ada sekitar 70% penduduk indonesia yang berada dalam rekapan usia produktif. Jika memang mereka berualitas, sudah barang tentu bangsa indonesia akan produktif menuju era tersebut. Namun realitas berkata lain.

Katakanlah pada anak-anak yang biasa di terminologikan sebagai generasi pelanjut estafet. 93 dari anak-anak SD sudah mengakses Web Pornografi, 5 dari 100 remaja indonesia tertular penyakit seksual, 63 dari 100 remaja melakukan hubungan seksual di luar nikah, 21 dari 100 remaja melakukan Aborsi, kasus pemerkosaan terjadi di 34 provinsi, kekerasan seksual terjadi 19 provinsi, 135 anak korban kekerasan setiap bulannya, kasus hubungan sedara yang terjadi di 23 provinsi (BPS & SEMAI. org).

Jika melihat setiap problem dengan kasus yang berbeda-beda tersebut, sudah barang tentu KOHATI seharusnya melakukan agenda reformasi internal dalam menyikapi fakta-fakta tersebut. Pendidikan yang penting bagi KOHATI ialah pembelajaran yang intens terhadap masalah-masalah reproduksi dan perkembangan anak dalam tahap-tahap selanjutnya. Karena memang tidak bisa disangkal bahwa setiap wantia yang menaungi wadah HMI di lembaga semi otonom seperti KOHATI misalnya, pastinya akan melalui masa-masa tersebut secara aktif. Perisiapan demikian di perlukan guna menanam benih-benih pendidikan yang bersifat primer terhadap orientasi anak dikemudian harinya.

Dalam momentum besar kongres HMI yang akan diselenggarakan di Ambon pada tanggal 9-14 februari 2018 sekaligus dengan musyawarah nasional kohati (MUNASKO), saya berharap setiap permasalahan yang datang menimpa indonesia dengan makna peristilahan yang diberikan oleh wadah selamatkan anak indonesia (SEMAI) sebagai BLAST, Bored yakni bosan dengan rutinitas seharai, Lonley, selalu sendiri, Angry, ketakutan, Affraid tertekan untuk bercerita, Stress karena tertekan oleh situasi dan Tired, lelah karena akumlasi permasalahan.

Bisa berbubah menjadi BEST, Behave berperlaku baik, Emphatic, bisa memposisikan diri kepada orang lain, Smart, mengoptimalkan potensi yang dimiliki, dan Tough, tangguh memegang prinsip.

Karena dengan agenda yang beginilah, KOHATI dapat dikatakan sebagai lembaga yang tidak hanya terfokus untuk mengembangkan potensi diri melalui ruang-ruang akademik, melainkan turut serta sebagai generasi penyambung semngat perubahan untuk melakukan advokasi yang serius bagi masyarakat secara luas, melalui program jangka pendek, menengah dan panjang. (***)

Comments

comments

Click to comment

NEWS UPDATE

BUAT HARI ANDA BERKUALITAS
QUICK CONTACT:
OFFICE :

Graha L9 Lantai 3, Jalan. Raya Kebayoran Lama Pal 7. No 17, Jakarta Selatan.

© 2016 KILASMALUKU.COM by FAJAR.co.id

To Top