Soal Rencana Pembangunan Bandara di Banda, Warga: Pak Gub, Jangan Ambil Desa dan Mata Pencaharian Kami – KILASMALUKU.com
DAERAH

Soal Rencana Pembangunan Bandara di Banda, Warga: Pak Gub, Jangan Ambil Desa dan Mata Pencaharian Kami

KILASMALUKU.com- Masyarakat Desa Tanah Rata, Kecamatan Banda Kabupaten Maluku Tengah  (Malteng) melakukan protes terhadap recana pembangunan bandara baru di Banda. Penolakan dilakukan karena bandara itu tepat melintas di atas desa Tanah Rata.

La Acang, salah satu tokoh pemuda Desa Tanah Rata mengaku, warga sangat khawatir jika Bandara yang dibangun akhirnya menghilangkan tepat tinggal warga. Apalagi, sesuai gambar yang beredar, ranway bandara mengambil sebagaian besar perkampungan dan sepanjang pesisir pantai hingga lebih dari 1 kilometer.

Gambar lokasi bandara baru yang melintas sepanjang pesisir pantai Desa Kampung Baru

“Jika seperti itu, artinya perkampungan kami dirampas, mata pencaharian kami dihilangkan. Kami disini hidup dari berkembun dan melaut. Jika benar pembangunan bandara seperti yang terlihat di gambar, artinya pemerintah sudah mengambil desa dan sumber hidup kami,” keluhnya, Senin (25/9).

Menurutnya, warga Desa Tanah Rata kaget dengan proses pengukuran lahan untuk lokasi bandara. Sejak awal, tidak pernah ada pemberitahuan atau sosialisasi dari pemerintah setempat soal rencana itu. Tiba-tiba saja tim sudah menetapkan titik-titik koordinat yang terpakai untuk jalur bandara. Hal itu juga yang membuat warga sangat khawatir.

Lanjutnya, setelah pengukuran itu, warga baru mengetahui akan ada rencana pembangunan bandara, itupun dari media sosial. Warga makin cemas karena dari foto-foto yang beredar lokasi bandara melintas tepat di perkampungan.

“Belum ada informasi resmi dari pemerintah. Meski sebelumnya pernah ada pertemuan dengan pihak bandara setelah warga meminta tim pengukuran untuk menghentikan aktifitas. Namun itu tidak mengakomodir tuntutan warga,” ujarnya.

Dikatakan, warga Tanah Rata menolak pembangunan bandara yang melintas di perkampungan serta perairan sepanjang pesisir pantai Desa Tanah Rata hingga Kampung Baru. Alasannya, jika bandara tetap dipaksakan maka akan berdampak pada rusaknya terumbu karang yang menjadi tempat memancing nelayan tradisional.

Warga juga meminta Gubernur Maluku melakukan evaluasi kembali atas lokasi pembangunan bandara. Karena, berdasarkan gambar yang yang ada, pesisir pantai yang menjadi titik pembangunan bandara adalah wilayah potensial hidupnya terumbu karang.

“Di sempanjang perairan Desa Tanah Rata dan Kampung Baru adalah tempat nelayan tradisional mencari ikan, jadi kami meminta gubernur untuk melakukan evaluasuasi kembali atas lokasi itu,” ujar La Acang.

Sementara itu, Gubernur Maluku, Said Assagaff yang dikonfirmasi terkait pembangunan membantah jika lokasi bandara melintas perkampungan warga. Assagaff juga menegaskan jika tim Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) sudah melakukan survey dilokasi tersebut. Hasilnya, tidak menemukan adanya terumbu karang yang hidup.

“ Tidak ada yang kena (perkampungan-Red), itu kan di laut. Tanya orang yang bersangkutan, itu ditimbun di laut dan tidak ada terumbu karang yang hidup di situ. Jika ada warga yang ingin protes nanti bertemu dengan saya,” tegas Assagaff. (redaksi_KM01)

 

Comments

comments

Click to comment

NEWS UPDATE

BUAT HARI ANDA BERKUALITAS
QUICK CONTACT:
OFFICE :

Graha L9 Lantai 3, Jalan. Raya Kebayoran Lama Pal 7. No 17, Jakarta Selatan.

© 2016 KILASMALUKU.COM by FAJAR.co.id

To Top