Sebelum Kecelakaan Maut di Tanjakan Taeno, Warga sudah Protes Perusahaan Telly Nio, Namun tidak Dipedulikan – Kilas Maluku
AMBOINA

Sebelum Kecelakaan Maut di Tanjakan Taeno, Warga sudah Protes Perusahaan Telly Nio, Namun tidak Dipedulikan

KILASMALUKU.com- Kemarahan warga pasca lakalantas maut di tanjakan Taeno, Negeri Rumah Tiga, Selasa (29/8) kemarin cukup beralasan. Rupanya proyek pengaspalan itu sajak awal sudah diprotes. Warga dari enam dusun mengeluhkan cara kerja pihak perusahaan yang menyulitkan akses transportasi dan mengancam keselamatan warga.

Seperti diketaui, jalan utama, Ir. m Putuhena ini menjadi satu-satunya akses yang menghubungkan Kota Ambon dengan enam dusun di kawasan Bukit Barisan, yakni Dusun Taeno Bawah, Taeno Atas, Air Ali, Dusun Bandari, Kampung Kranjang, dan Dusu Waringin Cap.

Pengerjaan yang dilakukan dianggap menghambat aktifitas warga. Pasalnya perusahaan sengaja menutup akses jalan karena melakukan pengaspalan secara menyeluruh. Saat pengerjaan berlangsung jalan diutup total.

Padahal, warga sudah meminta agar pengerjaan dilakukan bertahap atau mulai dari sebagian badan jalan. Kalaupun dilakukan menyeluruh, maka warga menyarankan agar pengaspalan dilakukan pada malam hari.

Salah satu tokoh masyarakat Taeno Bawah mengaku, permintaan warga tersebut tidak dikabulkan pihak kontraktor dengan alasan bahwa alat berat yang digunakan untuk menyiram aspal berukuran besar dan tidak bisa diperkecil untuk setengah badan jalan, tapi mereka (pekerja) berjanji akan membuka akses jalan untuk warga setiap setengah jam. Kenyataan sistem buka tutup jalan dilakukan setiap satu sampai dua jam sekali.

Sebelumnya, diceritakan, jika proyek pengaspalan ruas jalan ini sudah pernah dilakukan tahun 2003. Saat itu perusahaan yang menangani pengaspalan adalah PT. Waskita.

“Mereka (Waskita) yang kerja ruas jalan ini tahun 2003, khusus pada tanjakan Kotamahu dilakukan malam hari. Sudah begitu, tingkat pengamanan dan kehatian-hatian mereka tinggi,” cerita salah satu tokoh masyarakat Taeno, seperti dikutip dari Ambon Ekspres (Grup Fajar).

Yang paling penting, lanjut dia, semua alat berat saat itu diikat menggunakan kawat sleng dan digandeng pada kendaraan berat yang diletakan di puncak tanjakan maupun ada yang diikat pada sejumlah pepohonan besar. “Ada pohon mangga yang ada di puncak, itu dulu dipakai untuk mengikat alat-alat berat yang melakukan pekerjaan di tanjakan tinggi ini,” ujarnya.

Namun herannya, saat pengaspalan kali ini, pihak kontraktor yang belum diketahui nama perusahaanya agak teledor dan kurang hati-hati.

“Mereka melakukan pengaspalan seperti mereka kerja di medan yang rata. Seluruh alat berat tidak ada pengamanan. Alat berat itu pernah tergelincir saat hendak naik ke puncak,” bebernya.

Sementara keterangan warga lainnya menyebutkan, saat peristiwa tergelincirnya alat berat, pekerjaan sudah pada tahap penyelesaian penggilasan aspal. Saat itu alat berat hendak turun keposisi dataran rendah tempat dimana seluruh alat-alat berat pekerja ditampung. Posisi dari titik penggilasan aspal dengan dataran tempat memarkir alat berat sekira 50 meter dengan posisi kemiringan 45 hingga 50 derajat.

“Karena alat berat sudah mau turun ke posisi rata, maka ada perintah dari petugas dan pekerja untuk kendaraan bisa lewat. Saat itulah sejumlah kendaraan dar arah bawah naik, begitupun dari posisi puncak sudah ada yang turun. Tapi baru beberapa kendaraan melintas, alat berat meluncur turun dengan kecapatan tinggi. Padahal saat itu ada kendaraan yang naik, dan akhirnya terjadi peristiwa ini,” jelasnya.

Saat itu, ketika diberi aba-aba oleh petugas beberapa kendaraan meluncur naik. Namun baru mencapai jarak 30-40 meter, tiba-tiba alat berat meluncur. Padahal jarak alat berat dengan kendaraan pertama yang naik mobil Kijang DE 993 AD yang diketahui dikemudikan Alroi Matahurila hanya berjarak sekitar 10-15 meter. Mobil tidak sempat menghindar dan menjadi sasaran alat berat, separuhnya bodi mobil rinsek, sedangkan supir serta penumpang lainya terluka serius.

Di belakang mobil ini ada sepada motor Revo DE 3538 LL yang dibawah korban Hiradin Rumbia. Ia membonceng istri dan anaknya (Salmania Rumbia, masih dirawat di RSU Haulussy). Pada jarak sekira 5 meter dibawah kendaraan korban ada juga sepeda motor Jupiter MX bernomor polisi DE 2382 LC yang dibawah Fandi Nurdin berboncengan dengan Anita (17), warga Dusun Kerajang, keduanya selamat. Alat berat yang meluncur dengan kecepatan tinggi baru berhenti setelah menabrak alat berat lainnya milik kontraktor yang sementara terparkir di posisi dataran rendah.

Untuk diketahui, pengerjaan proyek hotmix di Jalan Air Ulang, Negeri Rumahtiga sepanjang 2.000 meter ini sudah mulai dikerjakan pada awal Agustus lalu oleh perusahaan milik Telly Nio. Hanya karena cuaca di Kota Ambon terus hujan maka pekerjaan mengalami penundaan beberapa kali.

Pekerjaan dilakukan pihak kontraktor pada awal Agustus lalu yang dimulai dari titik nol di ruas Jalan Ir M. Putuhena. Saat itu pekerjaan yang diselesaikan diperkirakan baru sekira 250 meter dengan medan datar. Selanjutnya pihak kontraktor melakukan pekerjaan pada titik 1.900 meter dengan medan terjal.

Di posisi ini, perusahaan memulai pekerjaan pada 24 Agustus lalu. Pekerjaan yang dituntaskan saat itu sekira 100 meter. Dan pada Selasa, (29/8), pekerjaan kembali dilanjutkan dengan medan terjal atau tepatnya di Tanjakan Kotamahu. Naas pada hari itu, salah satu alat berat Peneumatic Roller (PTR) untuk penggilasan aspal yang dikemudikan Johanis Tutuarima (64) tergelincir dan menggilas sejumlah kendaraan dan pengguna jalan yang hendak melintas di ruas jalan tersebut. (ISL/ameks/redaksi_KM01)

 

Comments

comments

Click to comment

NEWS UPDATE

BUAT HARI ANDA BERKUALITAS
QUICK CONTACT:
OFFICE :

Graha L9 Lantai 3, Jalan. Raya Kebayoran Lama Pal 7. No 17, Jakarta Selatan.

© 2016 KILASMALUKU.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!