Statmen Gubernur ‘Biar Miskin Asal Bahagia’ itu tidak Etis, Memangnya ada Standar Nasional Kebahagiaan? – Kilas Maluku
AMBOINA

Statmen Gubernur ‘Biar Miskin Asal Bahagia’ itu tidak Etis, Memangnya ada Standar Nasional Kebahagiaan?

Ilustrasi

KILASMALUKU.com – Pernyataan kontroversi Gubernur Maluku, Said Assagaf soal kemiskinan di Maluku menuai banyak protes. Pasalnya, pernyataan tersebut tak layak disampaikan oleh seorang kepala daerah.

Assagaf mengeluarkan statemen yang menghebohkan masyarakat Maluku di beberapa media cetak lokal, yakni ‘biar miskin asal bahagia’ ini dianggap tidak relevan dan tak masuk diakal.

“Seorang kepala daerah tidak etis mengeluarkan statemen seperti itu. Memangnya ada standar nasional kebahagiaan? Logikanya sederhana, kalau masyarakat masi miskin tidak mungkin bisa bahagia. Aneh bin ajaib,” kata Kabid Eksternal Badko HMI Maluku-Maluku Utara, Hasan Assagaf lewat rilisnya ke redaksi, Senin (21/8).

Harap Hasan, Assagaf yang bakal maju sebagai calon Gubernur Maluku periode berikutnya bisa menjaga setiap statmen kontroversinya di ruang publik. Sebab masyarakat lagi berusaha keras keluar dari kemiskinan yang melilit mereka, sementara pemerintah malah sibuk dengan acara-acara seremonial yang hanya menghabiskan uang daerah tanpa ada manfaat bagi masyarakat.

“Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang memposisikan Maluku di peringkat tiga termiskian di Indonesia, itu telah menegaskan kegagalan pemerintah Provinsi Maluku di bawa kepemimpinan Said Assagaff. Yang sejauh ini dinilai tidak mampu membawa Maluku keluar dari daerah miskin,” jelasnya.

MenurutHasan, salah satu indikator yang paling fundamental untuk menilai tingkat Kemajuan pembangunan suatu daerah, itu dilihat dari jumlah kemiskinan. “Semakin kecil jumlah kemiskinan, itu menandakan adanya kemajuan suatau daerah, dan sebaliknya, kalau jumlah kemiskina itu Semakin besar, maka itu menandakan kegagalan suatu daerah. Sebab, tujuan pembangunan adalah untuk kesejahteraan rakyat,’ bebernya.

Tak hanya itu, Hasan juga menilai kepemimpinan Assagaf satu tahun ini tidak memiliki konsep dan program kerja dalam menuntaskan kemiskinan yang jelas. “Berfikir itu manifestasi dari tindakan nyata. Adakalahnya kita harus membedakan antara berfikir besar, bertindak besar dan bicara besar. Jangan sampai pak gubernur di tuding oleh publik hanya ngomong besar,” ungkapnya. (redaksi/km02)

Comments

comments

Click to comment

NEWS UPDATE

BUAT HARI ANDA BERKUALITAS
QUICK CONTACT:
OFFICE :

Graha L9 Lantai 3, Jalan. Raya Kebayoran Lama Pal 7. No 17, Jakarta Selatan.

© 2016 KILASMALUKU.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!