Film “The Dark Forgetten of Traill” Keluar dari Sejarah, Warga Asli Banda Demo DPRD Minta Tunda Penyiaran – Kilas Maluku
HEADLINE

Film “The Dark Forgetten of Traill” Keluar dari Sejarah, Warga Asli Banda Demo DPRD Minta Tunda Penyiaran

KILASMALUKU.com – Gabungan masyarakat Banda Ely-Ellat (Wandan) yang tersebar di Kota Ambon pada Senin (31/7) melakukan aksi demo di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Maluku.

Demo yang dipimpin Bahar Kubangun itu menyusul adanya pemutarbalikan fakta yang dilakukan sutradara Jay Subyakto pada promosi film Banda yang berjudul “The Dark Forgetten of Traill”.

Koordinator aksi, Bahar Kubangun mengatakan dalam film tersebut, diceritakan bahwa turunan Mboyratan yang adalah anak asli Banda telah lenyap tak tersisa karena dibunuh kelompok Genosida.

Padahal, saat warga Banda dibantai atau Genosida pertama kali di Indonesia itu, separuh dari turunan asli Banda melarikan diri dan menetap di Maluku Tenggara.

“Naskah cerita yang ditulis Irfan Ramli itu menyatakan kalau anak asli Banda sudah tidak ada di muka bumi. Padahal, kami ini adalah turunan Mboyratan anak asli Banda yang pernah mengungsi saat Genosida pertama di Indonesia dan membantai sebanyak 14.000 warga Banda dalam jangka waktu setahun. Jujur, kami sangat tersinggung,”tandasnya.

Dikatakan, film yang diproduseri oleh Sheila Timothy dan Abduh Aziz ini tentunya sangat merugikan warga Wandan pada khususnya dan anak cucu Mboyratan pada umumnya.

Untuk itu, dia meminta DPRD Maluku agar segera menyurati Lembaga Lensor Film Nasional (LSFN) untuk menunda penayangan fllm “The Bark Forgeotten Traill”.

“Film ini sangat merugikan kami warga Wandan. Jadi pimpinan DPRD Maluku harus mengambil langkah dengan menyurati LSFN agar bisa menunda film tersebut yang rencananya akan ditayangkan secara nasional pada 3 Agustus 2017 mendatang,”tegasnya.

Selain itu, Ketua DP-IPPMAWAN, Kamaludin Rery mengungkapkan protes yang disuarakan warga Wandan terhadap sutradara dan penulis film sangat beralasan. Sebab, apa yang diulas dalam karya tersebut tidak sesuai kenyataan.

“Kalau kita protes itu karena memang ada yang tidak benar. Tetapi kok penulis Irfan Ramli malah membalas dengan membuat pernyataan provokatif dimedia sosial yang memicu kebencian masyarakat Banda Naira terhadap masyarakat Wandan di Maluku. Akhirnya, saling hujat dan saling caci antar suku terjadi di media sosial,” katanya. (redaksi/km03)

Comments

comments

NEWS UPDATE

BUAT HARI ANDA BERKUALITAS
QUICK CONTACT:
OFFICE :

Graha L9 Lantai 3, Jalan. Raya Kebayoran Lama Pal 7. No 17, Jakarta Selatan.

© 2016 KILASMALUKU.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!