CELAKA! Jika Prosesnya Tuntas, Tanah di RSUD dan Sekitar Kudamati akan Dieksekusi, Keluarga Alfons Tolak Ganti Rugi – KILASMALUKU.com
AMBOINA

CELAKA! Jika Prosesnya Tuntas, Tanah di RSUD dan Sekitar Kudamati akan Dieksekusi, Keluarga Alfons Tolak Ganti Rugi

Kota Ambon

KILASMALUKU.com- Diam-diam ternyata proses hukum atas sengketa lahan di Kudamati, Kecamatan Nusaniwe makin tegang. Pihak keluarga (alm) Josias Alfons, Jacobus Abner Alfons dan lainnya yang menjadi ahli waris atas 20 dusun dati (ulayat) di Negeri Urimessing, akan mengajukan eksekusi lahan yang sudah dimenangkannya hingga ke tingkat banding.

Kuasa Hukum keluarga Alfons, Agus Dadiara mengatakan, untuk Kelurahan Kudamati pihaknya masih menunggu hingga proses hukumnya selesai. Meski begitu sudah ada penolakan di Pengadilan Tinggi (PT) Ambon yang artinya menguatkan putusan pengadilan sebelumnya.

“Untuk dusun dati Urimessing Kudamati, yang didalamnya ada RSUD dr Haulussy, masih dalam proses hukum. Tapi yang pasti tiga dusun, yaitu Talaga Raja dan Batu Bulan dalam waktu dekat kita ajukan permohonan eksekusinya,” tegas Agus, seperti dikutip dari Kabartimur, Selasa (13/6).

Dirincikan, ke-20 dusun dati itu masing-masing Appenauw, Alinauw, Waspama, Enularin, Unielah, Tupumony, Waiwaroe, Batu Pintu, Apanawanuan, Eung, Koki, Mera, Kumbanuwan, Kate-Kate, Batu Sombayang, Lokua, Kudamati, Intjipuan, Batu Bulan, Ullah dan Talaga Radja. Kepemilikan 20 dusun ini berdasarkan putusan pengadilan negeri Ambon kemudian dikuatkan lagi oleh putuan Pengadilan Tinggi Ambon  No.10/PDT/2017/PT AMB tertanggal 29 Mei 2017.

Agus mengatakan, pihak ahli waris tidak bertanggungjawab atas pemukiman masyarakat di dusun-dusun itu. Masyarakat yang terlanjur membeli lahan dan mendapat alas hak dari pihak lain yang mengklaim diri sebagai pemilik, mereka itu lah yang patut dipidanakan. Yakni Raja Negeri Urimessing ketika lahan-lahan itu dibeli, Johanis Tisera dan kawan-kawan.

“Mereka bukan punya tanah tapi bisa jual ke orang lain, itu kan kejahatan yang harus dipidanakan, bukan begitu,” terangnya. Dikatakan tanah tersebut diwariskan sesuai petunjuk Raja Negeri Urimessing ketika itu, mendapat pengakuan atas kepemilikan 20 dusun tersebut pada tanggal 25 April 1923 oleh pemerintah Belanda, sesuai Register Dati Residen Amboina tertanggal 26 Mei 1814.

Seperti diketahui, setelah kalah di Pengadilan Negeri Ambon, upaya banding diajukan para pihak ke PT Ambon. Tapi permohonan mereka juga ditolak oleh PT Ambon. Yakni melalui putusan Nomor 10 tersebut.

Mereka masing-masing, sesuai putusan Pengadilan Negeri Ambon Nomor 62/PDT.G/2015/PN.AB, adalah Johanis Tisera sebagai Tergugat I Asal dan Tergugat II Intervensi, BPN Kota Ambon sebagai Tergugat II Asal yang menjadi Tergugat III Intervensi. Kemudian Rostiaty Nahumarury (Notaris) sebagai Tergugat III Asal yang jadi Tergugat IV Intervensi. Juga Tony Rusdianto Tergugat IV yang menjadi Tergugat Intervensi.

Bahkan Majelis Hakim PT Ambon yang diketuai Mohammad Djoko, beranggotakan Budi Prijanto dan Moestofa, memerintahkan Panitera  Pengadilan Negeri Ambon melakukan eksekusi di atas lahan-lahan dimaksud.

Sayangnya, Panitera Pengadilan Negeri Ambon J Hair belum berhasil ditemui guna dimintai konfirmasi atas putusan PT Ambon, terkait perintah eksekusi. (KTA/katim/redaksi_01))

Comments

comments

Click to comment

NEWS UPDATE

BUAT HARI ANDA BERKUALITAS
QUICK CONTACT:
OFFICE :

Graha L9 Lantai 3, Jalan. Raya Kebayoran Lama Pal 7. No 17, Jakarta Selatan.

© 2016 KILASMALUKU.COM by FAJAR.co.id

To Top