Ayu Rahaweman, Putri Asal Tenggara yang Sukses Jebol IPB dengan Predikat Cumlaude, Kini Lanjut ke Jerman – Kilas Maluku
AMBOINA

Ayu Rahaweman, Putri Asal Tenggara yang Sukses Jebol IPB dengan Predikat Cumlaude, Kini Lanjut ke Jerman

Usianya baru beranjak 26 tahun. Lajang tapi prestasinya di dunia akademik jauh diatas rata-rata. Lulus terbaik dari Institut Pertanian Bogor, kini melanjutkan studinya di Jerman. Menjebol IPB dengan predikat suma cumlaude 4,00 untuk magister. Ayu Christien Rahaweman menjadi satu-satunya perempuan asal Maluku saat ini yang mampu menjadi sangat terbaik di institut paling bergengsi di Indonesia ini.

Yani/Ambon Ekpres (FAJAR GRUP)

Ayu–biasa dia disapa, bungsu dari delapan bersaudara. Semenjak kecil, sudah ditinggal ibunya. Hidup tanpa kedua orang tua, tak menyurut semangat gadis berparas cantik ini untuk bersekolah. Bertubuh ceking, Kulitnya putih, matanya sedikit sipit, tak seperti orang asli dari Maluku Tenggara umumnya. Saat berkenalan, senyumnya terus saja melebar. Namun ketika diwawancarai, ceplas-ceplos dijawabnya.

Ayu lahir dari pasangan Edward Rahaweman dan Yosina Rahawarin. Sejak empat tahun, Ibunya sudah meninggal dunia. Dia kemudian diasuh oleh salah satu kakaknya. Besar tanpa asuhan orang tua membuat wanita cantik ini justeru makin tegar jalani hidup. “Saya tinggal bersama kakak,” kata dia saat bertandang ke Ambon Ekspres.

Mengeyam pendidikan di bangku Sekolah Dasar ditempuhnya pada usia belia. Baru lima tahun, duduk di kelas satu. Dengan usia lima tahun, harusnya dia belum bisa bersekolah. “Kamu sudah mampu untuk bersekolah,” kata Ayu mengutip tuturan sejumlah guru kepadanya saat akan masuk sekolah.

SD 9 Airputri, Ambon dipilih kakaknya untuk menyekolahkan Ayu. Ayu dibiayai penuh kakak-kakaknya. Dibekali otak yang cerdas, membuat Ayu mudah melahap pendidikan dibangku sekolah dasar. Prestasinya luar biasa, namun disebutnya sebagai biasa-biasa saja. “Hanya rating 3 atau lima besar sampai lulus SD,” kata dia merendah, sambil menebar senyumnya.

Lulus SD, dia melanjutkan ke SMP 19. Di SMP dia memperlihatkan bakatnya di bidang biologi. Mewakili sekolahnya dia pernah ikut olimpiade Biologi tingkat provinsi, meski hanya capai finalis. Ayu menuntaskan bangku sekolah di SMA 2 Negeri Ambon. Untuk dua jenjang pendidikan ini prestasinya juga luar biasa.

Unpatti dipilihnya untuk melanjutkan studi strata 1. Nilainya yang tinggi menjadi bekalnya masuk Unpatti pada tahun 2008 tanpa melalui test. Di Unpatti dia memilih FKIP. Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam menjadi pilihannya. Program studi pendidikan biologi jadi fokusnya. “Saya senang pelajar biolog,” kata dia. Namun kendala biaya, menjadi penghalangnya. Ayu tak mundur. Dia tegar. Dan bertekad menuntaskan jenjang pendidikan S1-nya.

Ayu tak mau lagi menyusahkan kakak-kakaknya untuk menggapai cita-citanya itu. Bekerja paruh waktu ditempuhnya. “Biaya kuliah kan mahal. Saya kerja di warnet Batu Gantong,” tutur Ayu. Di Warnet, dia digaji Rp800 ribu per bulannya. “Itu belum termasuk 30 persen fee dari hasil pengetikan kalau ada orderan,” tambah dia.

Setahun kuliah, Ayu sudah mendapatkan bea siswa. Bea Siswa ini cukup membantunya untuk menyelesaikan pendidikan. Tahun 2013  Ayu menyelesaikan pendidikan S1-nya dengan Indeks Prestasi 3,86 atau predikat cumlaude. Dia menjadi lulusan terbaik Unpatti dengan skripsinya berjudul “Pengaruh Lamanya Fermentasi dan Jenis Nutrisi Terhadap Kualitas Nata de Banana Skin.”

Usai menamatkan S1, dia memilih mengikuti seleksi bea siswa di Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional. Bea siswa ini diperuntukan untuk daerah 3T. Hasilnya Ayu bersama enam rekan lainnya lolos dari Ambon. Secara keseluruhan yang mendapat bea siswa ini ada 26 orang. Dia dikirim ke IPB tahun 2014 untuk menyelesaikan magister S2 dibidang Teknologi Hasil Perairan.

Di IPB, Ayu justeru menunjukan kecerdasannya dibidang biologi. Usai menyelesaikan teori, dia diajak dosennya dalam proyek kerjasama dengan pemerintah Jerman, sekaligus dipakai sebagai bahan tesisnya. Proyek itu dilaksanakan di Kepulauan Seribu, Jakarta. “Saya diajak dosen,” kata dia.

Penelitian ini dilakukan untuk  Eksplorasi tentang mikro organism laut. Mikro organisme punya potensi untuk menghasilkan senyawa metabolis sekunder. Senyawa ini biasa disebut bio aktif yang bisa dikembangkan menjadi senyawa obat. “Nah dalam tesis saya, dikembangkan menjadi senyawa anti bakteri misalnya untuk anti biotic,” sebut dia.

Selama ini, kata dia, bakteri sudah resisten terhadap anti biotik. Proyek ini untuk mencari senyawa-senyawa bio aktif terbarukan untuk dikembangkan menjadi senyawa bio aktif.  Yang ditemukan dari penelitian ini, adalah senyawa metabolis sekunder.

“Pertama kita dapat 13 isolate, tujuh dari air laut, enam dari air tawar. 13 isolat jamur atau kapang kemudian kita ekstraksi lalu diambil senyawa metabolis sekundernya,” kata dia.

Dari hasil itu, didapat beberapa senyawa yang berpotensi menjadi anti biotik, salah satunya plafonot, steroid, apaloid yang berperan sebagai senyawa aktif. “Semua ini bisa menghambat bakteri dengan aktivitas yang besar,” kata dia.
Dari sisi ekonomis, kata dia,  rumput laut dikembangkan menjadi senyawa bio aktif yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi, seperti senyawa obat atau senyawa terbarukan.

Hasil penelitian inilah yang disadurkan Ayu menjadi tesis dengan judul “Aktivitas Antibakteri dari Kapang Kapang Endovit Rumput Laut, dan Isolasi Fraksi Aktif.” Tesis ini juga yang menjadi pelengkap sempurnanya mendapat predikat suma cumlade dari IPB dengan IP 4,00.

Ada cerita menarik, kata Ayu, ketika dia memulai studi di IPB. “Waktu pertama masuk kita dari Indonesia Timur sering dibilang mahasiswa dari daerah 3T, Tertinggal, Terluar, dan Terkebelakang. Setelah saya menyelesaikan studi, ada wakil dekan saya bilang. Untuk Ayu 3T sekarang menjadi, Termuda, Tercepat, Terpintar,” kata dia sambil tertawa lebar.

Kini Ayu diangkat menjadi dosen di almamaternya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pattimura. Bukan berstatus PNS, tapi dosen non PNS di Program Studi Biologi. “Di sini saya benar-benar bisa mengembangkan kapasitas keilmuan saya,” kata Ayu.

Dia berharap bisa kembali lagi ke Ambon setelah menyelesaikan program doctoral di Jerman. “Visi saya membangun daerah ini dan mengabdi di Unpatti. Keinginan besar saya tetap menjadi dosen. Kita di FKIP lebih banyak mahasiswa tak mampu. Kita dari From zero to hero,” pungkas dia. (ameks)

Comments

comments

NEWS UPDATE

BUAT HARI ANDA BERKUALITAS
QUICK CONTACT:
OFFICE :

Graha L9 Lantai 3, Jalan. Raya Kebayoran Lama Pal 7. No 17, Jakarta Selatan.

© 2016 KILASMALUKU.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!