PT GBU Sebut Penelitian Ahli Unpatti Tak Sesuai Standar – KILASMALUKU.com
DAERAH

PT GBU Sebut Penelitian Ahli Unpatti Tak Sesuai Standar

George Filips Loswtar

KILASMALUKU.com – Ahli pertambangan dari PT GBU, George Filips Loswtar mengatakan penelitian yang dilakukan oleh ahli Universitas Pattimura (Unpatti) soal pelanggaran Amdal di tambang Pulau Romang tak memenuhi standar.

Menurut Loswetar, dalam laporan yang dilakukan oleh ahli Unpatti, ada beberapa prosedur atau teknik pengambilan sampel yang tidak sesuai. Ahli Unpatti mengambil air untuk penelitian, DOD-nya 1 liter bukan 600 miligram, apalagi pengambilannya menggunakan botol aqua, itu berarti tidak standard.

Dirinya merincikan, DOD yang diambil biasanya mencapai 100 mililiter dan diawetkan menggunakan H2S04, mengingat jarak antara Romang ke lab cukup jauh. Sesuai standard, sampel yang diberikan 3 hari sudah harus sampai ke lab untuk di sofemetal, dan pengambilannya harus disaring menggunakan jeringgen filter 0,45 um dan dimasukan ke dalam botol kemudian diawetkan dengan HNO3.

Namun nyatanya sampel yang diambil tim Unpatti sudah melebihi jangka waktu yang ditentukan, yakni sampel tersebut diambil pada 13 Desember dan dikeluarkan pada 10 Januari, apalagi sampel yang diambil tanpa pengawet, berarti hasil yang dikeluarkan sudah tidak valid dan akurat.

“Itu merupakan standar, agar hasil yang didapatkan sesuai apa yang kita inginkan. Apalagi pada saat itu tim Unpatti tidak membawa alat untuk pengawet HNO3 dan H2S04,” jelasnya kepada wartawan di Ambon.

Kemudian untuk mengukur PH, sesuai apa yang diberitakan bahwa TDS sanitasi tidak memakai alat, padahal seharusnya menggunakan alat dan pengukurannya bukan langsung ke lokasi atau secara eksitu. Dimana hasilnya harus berasal dari lokasi pengambilan standarisasi. Sedangkan untuk penggunaan botol dianggap tidak standar, karena sesuai aturan, harus menggunakan inpek yang berpatokan pada kode segitiga botol, dimana angka 1 tidak bisa diisi ulang, tetapi angka 4 dan 7 yang disarankan oleh kesehatan dunia.

Begitu juga tambah Loswetar, jika ingin mengetes logam berat sesuai aturan harus menggunakan botol kaca 500 mililter, itupun harus diawetkan dengan H2SO4. Sebelumnya LIPI telah melakukan penelitian terhadap tiga lubang bor, hasil merkuri (HG) hanya 0,021 ppm. Dimana dalam pengoboran pihaknya menggunakan polimer yang suplainya dari Australia Driling. Polimer tersebut dibuat dari sendimen, bentonit, zeng yang terbuat dari bahan alami. Mengingat semua hal tersebut diatur dalam undang-undang.

“Jika menggunakan merkuri sebanyak itu sesuai hasil Unpatti, sama saja kita membunuh diri sendiri. Apalagi di undang-unndang dilarang memakai merkuri. Harus bisa dibedakan perusahaan yang mendapatkan IUP beda dengan izin penambang rakyat. Kita ini, setiap 3-6 bulan sekali, ada pengawas minerba dari Jakarta datang melakukan pengawasan, dan hasilnya baik,” tuturnya. (Redaksi/kilasmaluku)

Comments

comments

Click to comment
BUAT HARI ANDA BERKUALITAS
QUICK CONTACT:
OFFICE :

Graha L9 Lantai 3, Jalan. Raya Kebayoran Lama Pal 7. No 17, Jakarta Selatan.

© 2016 KILASMALUKU.COM by FAJAR.co.id

To Top