DAERAH

Perilaku politik dalam perspektif media Oleh :Reza Wailissa

fb_img_1482071644480

Perilaku Politik Dalam Perspektif Media
Oleh : Reza Fauzi Rachman Wailissa
(Mahasiswa Pascasarjana Komunikasi Politik Unisba)

Awalnya, komunikasi berada dalam lingkup sederhana. Namun, seiring perkembangan komunikasi mulai dihadapkan pada problem yang bertambah kompleks dan rumit. Komunikasi tidak lagi berada dalam tahap melukiskan perasaan yang berputar pada lingkup skala kecil dan terbatas, tetapi telah membawa manusia berorientasi ke skala yang lebih luas dan lebih kompleks.

Bersamaan dengan perkembangan tersebut, para teoritikus dan ilmuwan membuat suatu kajian, perpaduan kajian antara ilmu komunikasi dan ilmu sosial lain menghasilkan bentuk perkembangan baru yang menunjukkan pada karakteristik bahwa ilmu komunikasi saat ini dapat dipadukan. Salah satu kajian yang menarik minat para ilmuwan politik dan ilmuwan komunikasi, yaitu kajian terhadap komunikasi politik.

Komunikasi politik di Indonesia sangatlah  begitu penting, apalagi di era reformasi seperti saat ini. Iklim keterbukaan dan demokratisasi, desentralisasi serta pemilihan kepala daerah secara langsung. 

Komunikasi politik dalam pemilukada merupakan suatu proses penyampaian pesan terhadap perilaku politik masyarakat lokal, dimana proses informasi politik yang relevan diteruskan dari satu bagian system politik pada bagian lainnya dan diantara sistem-sistem sosial dengan sistem-sistem politik. Proses ini berlangsung di semua tingkat masyarakat, di setiap tempat yang memungkinkan terjadinya pertukaran informasi diantara individu-dengan berbagai kelompok yang memerlukan informasi.

Proses penyampaian informasi politik ini tentunya mempunyai tujuan, tujuan salah satunya adalah citra politik, sitra Politik. Roberts dan Dan Nimmo, citra politik terjalin melalui pikiran dan perasaan secara subjektif yang akan memberikan penilaian serta pemahaman terhadap peristiwa politik tertentu.

Dari pendapat Roberts dan Dan Nimmo, maka image didalam politik sebenarnya lebih dari sekadar strategi untuk menampilkan kandidat kepada para pemilih, tetapi juga berkaitan dengan kesan yang dimiliki oleh pemilih baik yang diyakini sebagai hal yang benar atau tidak. Artinya, citra lebih dari sekadar pesan yang dibuat oleh kandidat ataupun gambaran yang dibuat oleh pemilih, tetapi citra merupakan negosiasi, evaluasi dan konstruksi oleh kandidat dan pemilih dalam sebuah usaha bersama. Dengan kata lain, keyakinan pemilih tentang kandidat berdasarkan interaksi atau saling bergantungan antara yang dilakukan oleh kandidat dan pemilih.

Citra yang baik, dengan sendirinya akan meningkatkan popularitas dan elektabilitas kandidat, begitupun sebaliknya. Sehingga, tidak salah bila politisi jumpalitan melakukan pencitraan politik. Karena semakin dapat menampilkan citra yang baik, maka peluang untuk meraup dukungan pemilih semakin besar. Namun dalam konteks pembentukan citra, tidak sedikit yang kehilangan kekuatan penarik perhatian.  

Citra yang sebelumnya diharapkan mampu menciptakan kejutan, stimulasi, dan gebrakan informasi tak terduga berubah menjadi pengulangan-pengulangan yang terduga.

Maka untuk menghindarkan proses pencitraan dari hal tersebut, dibutuhkan manajemen pencitraan yang efektif sehingga untuk menarik perhatian dan simpati publik, di pihak lain mampu pula menjadi ajang pendidikan politik. Secara umum, komunikasi politik selalu membahas tentang posisi media dalam ranah publik.

Sebagain besar proses komunikasi politik merupakan mediated politics atau bahkan media-driven politics. Artinya, proses memproduksi dan mereproduksi berbasumberdaya politik, seperti menggalang dan menghimpun dukungan politik dalam pemilukada, merekayasa citra dan sebagainya, dapat dijembatani atau bahkan dikemudikan oleh industri media.

Keberhasilan politisi di era ini akan banyak ditentukan oleh kemampuannya membangun jaringan atau akses terhadap media, untuk kemudian mengelola opini, persepsi, merebut simpati, dan sebagainya melalui media. Mc Nair menyatakan bahwa, dalam era mediasi tersebut, fungsi media massa dalam komunikasi politik bias menjadi penyampai pesan-pesan politik dari pihak-pihak di luar dirinya, sekaligus menjadi pengirim pesan politik yang dibuat oleh wartawan kepada khalayak.

Berdasarkan dari penjelasan diatas, maka jelas bahwa media sangat berperan penting dalam komunikasi politik, medialah yang dapat menciptkan citra politik baik itu yang positif atau yang dapat di terima khalayak dan juga sebaliknya citra negatif atau yang tidak dapat diterima oleh khalayak dan tentunya akan disaring oleh khalayak, media fungsinya adalah untuk menginformasikan, yang memilah adalah khalayak sendiri, khalayak yang baik adalah khalayak yang dapat menyaring pesan yang disampaikan oleh media yang independen tentunya akan menyampaikan informasi sesuai dengan fakta.(*)

Komentar
Click to comment

BERITA POPULER

To Top