Inspiratif, Anak Pesisir di SBT Ini Nekat Olah Kopra dari SMP untuk Bekal Masuk Tentara – Kilas Maluku
RILEKS

Inspiratif, Anak Pesisir di SBT Ini Nekat Olah Kopra dari SMP untuk Bekal Masuk Tentara

Ibrahim Walla saat melakukan pekerjaannya sebagai pengolah kopra

MENJADI prajurit TNI bagi anak-anak pesisir di Seram Bagian Timur (SBT) merupakan sebuah cita-cita yang sangat didambakan. Namun desas desus mengenai sistem perekrutan anggota TNI yang konon harus menggunakan uang ‘pelicin’ senilai puluhan juta rupiah, membuat hasrat anak-anak pesisir untuk mengikuti seleksi tentara menjadi kendur. Mereka memilih menyerah sebelum mengadu ketangkasan.

Namun tidak demikian halnya dengan Ibrahim Walla, remaja berkulit sawo matang dengan tinggi 165 centimeter dari Kampung Werinama Kecamatan Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur. Meski hanya hidup berdua dengan sang nenek di sebuah rumah sederhana, lelaki ceking yang baru saja menamatkan pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas ini tidak patah semangat.

Ibrahim Walla merupakan potret anak pesisir yang memandang hidup dengan penuh optimisme kendati hidupnya serba kekurangan.

Ibunya meninggal dunia ketika dia masih di bangku Sekolah Dasar kelas 2, sedangkan ayahnya menikah dengan perempuan lain. Ibrahim kecil kemudian diambil oleh neneknya yang sudah lanjut usia, sedangkan empat orang saudaranya, hidup terpisah satu sama lain, sejak sang ayah menikah.

Hidup berdua dengan sang nenek memang bukan perkara mudah bagi Ibrahim Walla yang kala itu masih berusia tujuh tahun. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya bersama sang nenek, bocah periang bertubuh kurus ini, belajar menjadi kepala keluarga di saat teman-teman seusianya asyik menikmati masa-masa bermain dan hidup bergantung pada orang tua.

Pantang baginya menuntut yang lebih dari sang ayah yang sudah terikat dengan keluarga barunya. Jadi, selain masuk keluar hutan memanjat kelapa, pala dan cengkeh, setiap kapal yang datang merapat di Pelabuhan Bemo, Ibrahim kecil dengan suka rela datang menyodorkan tenaganya untuk memanggul barang demi selembar uang. Jerih payahnya dikumpulkan untuk membayar uang sekolah dan bekal hidup sehari-hari bersama sang nenek. Sesekali dia bersama neneknya memungut batu dan memecahnya menjadi kerikil untuk dijual.

Menginjak usia belasan tahun di bangku pendidikan Sekolah Menengah Pertama, Ibrahim pun berpikir untuk mengolah kebun kelapa milik sang nenek menjadi kopra sebagai sumber pendapatan keluarga dan modal melanjutkan pendidikan di bangku sekolah menengah. Sang ayah yang suka memburu rusa, kadang mengajaknya berburu di hutan, hingga dia bisa belajar menembak dengan menggunakan senapan angin. Dari situ, muncul hasratnya untuk menjadi prajurit TNI.

Hasratnya terus berkobar setiap dia menonton berita di televisi tentang penyergapan teroris atau operasi penumpasan gerakan separatis yang dilakukan TNI- Polri. Dia membayangkan dirinya berada dalam pasukan penyergapan dengan seragam loreng, dan berada di garda terdepan dalam setiap operasi bela negara.

Hasratnya, bahkan terbawa-bawa dalam mimpi. Mulai lah dia mengumpulkan informasi tentang proses seleksi calon tamtama dan bintara TNI. Menurut informasi yang disampaikan kepadanya, untuk bisa menjadi seorang tamtama, dirinya harus menyiapkan uang setoran senilai 50 juta rupiah, sedangkan untuk calon bintara hanya 20 juta rupiah. Informasi tersebut langsung membuatnya shock, tapi tidak menyurutkan hasratnya untuk menjadi seorang prajurit TNI.

Hal itu dia buktikan dengan keseriusannya memanfaatkan kebun kelapa sang nenek sebagai lahan membuat kopra. Di saat anak-anak seusianya asyik bermain-main sepulang sekolah, Ibrahim kecil dengan seragam biru putih justru berkutat di kebun kelapa.

Hari-harinya disibukkan dengan mencari nafkah untuk biaya hidupnya bersama sang nenek, belajar di sekolah dan mengolah buah kelapa menjadi kopra. Jerih payahnya memang tidak sia-sia. Dari SMP sampai tamat SMA, sedikitnya Rp7,5 juta rupiah telah disisihkan olehnya untuk ongkos mengikuti seleksi calon tentara. Uang tersebut disimpan baik-baik dalam tanah agar tidak tersentuh oleh siapa pun.

Meski disadari uang hasil kopranya masih jauh dari cukup untuk biaya tes tentara, namun tekadnya untuk menjadi seorang prajurit TNI terus membara dan akan terus diperjuangkan.

“Sebenarnya uang hasil kopra lebih dari itu, cuma sebagian beta pake par biaya hidup sehari-hari bersama nene dan biaya sekolah. Beta seng pernah beli pakaian atau HP deng uang hasil kopra, samua beta tabung untuk ongkos tes tentara, sebagian beta kase ke nene,” ujar Ibrahim.

Matanya langsung menjadi sembab karena sang nenek telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya satu tahun yang lalu. “Sakarang beta tinggal sandiri, setelah nene meninggal, sudara pela dari Kilang datang tinggal deng beta, keluarga de fretes, dong kerja di Kantor Camat Werinama, bapa deng sudara-sudara dong su bilang nanti tambah beta pu uang untuk iko tes tentara, seng tau nanti cukup ka kurang ka, beta pasrah saja,” tegar Ibrahim Walla.

Tekad dan hasrat Ibrahim Walla yang begitu tinggi untuk menjadi seorang prajurit TNI, rupanya tak luput dari perhatian warga. Mat Lessy, pegawai Kantor Camat Werinama misalnya.

Dia menaruh simpati yang sangat tinggi kepada Ibrahim Walla yang gigih memperjuangkan cita-citanya dengan mengolah kopra pada usia yang masih sangat dini.

“Beta secara pribadi salut dan simpati buat Ibrahim Walla, anak itu pung hasrat untuk menjadi prajurit TNI sangat tinggi, bayangkan dia bikin kopra dari SMP sampe sekarang par kumpul uang untuk modal tes tentara, seng tau su cukup ka balong, katong samua hanya berdoa semoga cita-citanya terwujud,” tutur Mat Lessy.

Hal yang sama juga disampaikan oleh yang lain. Mereka berharap, tekad dan semangat juang yang begitu tinggi dari seorang Ibrahim Lessy, dapat diapresiasi oleh Panglima TNI dengan mewujudkan impiannya menjadi prajurit TNI yang siap mengorbankan jiwa raga untuk kejayaan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Menjadi pribadi tangguh dalam mewujudkan sebuah cita-cita di tengah keterbatasan dan beban hidup yang berat, merupakan sikap kesatria yang sangat dibutuhkan untuk menjaga dan membela kedaulatan negara.

Semoga suara hati anak-anak pesisir yang ingin mengabdikan hidup untuk kejayaan bangsa dan tanah air, didengar dan diapresiasi oleh Negara. (leo/klm)

Comments

comments

NEWS UPDATE

BUAT HARI ANDA BERKUALITAS
QUICK CONTACT:
OFFICE :

Graha L9 Lantai 3, Jalan. Raya Kebayoran Lama Pal 7. No 17, Jakarta Selatan.

© 2016 KILASMALUKU.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!